Ahad, 28 Disember 2008

KILOMETER NOL, INDONESIA

KILOMETER NOL, INDONESIA.
PERMULAAN MASUK TANAH JAJAHAN REPUBLIK INDONESIA

Meskipon Indonesia dilihat sebagai sebuah negara yang terdapat banyak penduduk.. dan kebanyakan yang mengaku orang indonesia itu adalah jarang yang benar - benar mengenal Indonesia secara keseluruhan.. oleh kerana Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang terbesar dan terbanyak.. Ianya terbukti sememangnya negara Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang membentang dari barat hingga timur. Pada bahagian paling barat negara Indonesia ada sebuah pulau yang dikenali dengan nama Pulau Weh. Di sana terdapat satu kota yang sering didengarin bahkan sering dinyanyikan dalam salah satu lagu kebangsaan Indonesia, tapi hanya sedikit dari warga Indonesia yang mungkin pernah berkunjung ke sana, kota tersebut adalah Sabang. Sebenarnya Pulau Weh bukanlah sebuah pulau terasing terletak di hujung barat dari kepulauan besar indonesia , tetapi ada satu pulau kecil lagi yang dinamakan pulau Rondo, tetapi mungkin disebabkan pulau itu tidak berpenghuni, maka masyarakat indonesia lebih mengenal Pulau Weh sebagai pulau terbarat indonesia. Bahkan ada juga yang hanya mengenal kota Sabang tetapi tidak mengenal kota tersebut terletak di pulau apa.. Kota yang berpenghuni kurang lebih 24 ribu jiwa itu dahulunya adalah merupakan freeport, tetapi seperti yang diketahui bersama, pernah terjadi konflik yang berkepanjangan pada daerah NAD dan sekitarnya termasuk pulau Weh, oleh kerana itu pelabuhan bebas ditutup oleh pemerintah untuk mencegah masuknya senjata -senjata seludup ke dalam indonesia. namun ketika ini, freeport kota Sabang dibuka kembali oleh pemerintah Indonesia seiring pembangunan yang dirancangkan di daerah tersebut dengan projek sebuah pelabuhan baru telah didirikan menanti untuk mendukung rencana tersebut. Sabang dihubungkan menggunakan kapal ferry cepat mahupun lambat dari kota Banda Aceh, dengan ferry cepat memerlukan waktu kurang lebih 45 minit dari Banda Aceh. Seperti yang diketahui seluruh dunia telah terjadi bencana yang cukup menyedihkan bagi warga aceh khususnya juga bangsa Indonesia amnya pada tanggal 24 desember 2004 iaitu Tsunami. Pulau Weh pada umumnya dan Sabang pada khususnya juga terkena kesan yang cukup menyedihkan, meskipun tidak terdapat korban jiwa yang banyak seperti daerah lainnya yang terkena tsunami, tetap membawa kerosakkan banyak infrastruktur yang menjadikan kota ini hampir lumpuh akibat bencana tersebut. Pada masa sekarang ini keadaan di kota Sabang mahupun pulau Weh mulai kembali membangun dari bantuan dana dari negara - negara asing maupun Indonesia sendiri.


Di pulau ini juga ada sebuah monumen yang dinamakan Monumen Kilometer Nol. Pada monumen ini terdapat lambang burung Garuda di ujung atasnya. Seperti yang telah saya terangkan bahawa sebenarnya pulau terbarat indonesia bukanlah pulau Weh tetapi pulau Rondo. Tetapi kerana pulau itu tidak berpenghuni, maka monumen dibangunkan di pulau Weh, hampir 1 jam menaiki kereta dari kota sabang. Jalan menuju monumen kilometer sendiri tidak begitu bagus , mungkin kerana jarang ada orang yang mengunjungi tempat tersebut atau mungkin juga sebaliknya kerana mungkin jalan yang teruk menyebabkan hanya sedikit orang yang boleh sampai ke tempat tersebut. Namun satu hal yang pasti, hanya sedikit penduduk Indonesia yang pernah mengunjungi tempat tersebut. Hal ini dapat dilihat dari catatan dinas pariwisata setempat yang akan memberikan sertifikat kepada mereka yang sudah pernah mengunjungi tempat tersebut. Satu hal yang menyenangkan saya dari kunjungan saya selama ini ke sana adalah, saya sangat senang kerana boleh melihat matahari terbenam di daerah paling barat Indonesia.

Pulau Rondo sebelah barat kalau dikirakan adalah permulaan masuk daratan Republik Indonesia. Terdapat tugu pengistiharan menyatakan pulau weh sebagai pulau paling depan sebelah barat Indonesia. Tugu yang dirasmikan pada 9 September 1997 oleh Bpk. H. Try Sutrisno (wakil presiden Indonesia di masa orde baru) ini terletak di > 05 54’ 21.42” L.U. (lima sedarjah lima puluh empat minit dua puluh satu perpuluhan empat dua detik lintang utara) dan 95 13’ 00.50” B.T. (sembilan puluh lima darjah tiga belas minit kosong kosong perpuluhan lima kosong detik bujur timur), 29 kilometer dari ibukota Pulau Weh, Sabang. Sebenarnya titik dimana tugu ini berada bukanlah titik terbarat Indonesia. Namun karena titik terbarat yg sesungguhnya berada di pulau Rondo yg tidak berpenghuni, jadilah titik ini ditetapkan sebagai tanda Permulaan Daerah Tanah Jajahan Indonesia atau Titik Nol Indonesia. Dari atas bukit dimana tugu ini berdiri kita boleh melihat lautan Hindia dan beberapa pulau kecil di sekitar Pulau Weh (yg ternyata bentuknya benar2 mirip huruf ke-23 daftar alfabet, W).


Namun sayangnya tugu ini nampaknya kurang diberi keperhatian. Di dinding tugu ini banyak sekali coretan2 para pengunjung yg nakal. Bahkan pelekat perasmian tugu tersebut pun tak terkecuali dari dirosakkan oleh para pengunjung. Mereka menuliskan nama atau apapun itu sebagai “tanda” bahwa mereka pernah ke sana. Padahal dinas yang bersangkutan sudah menyiapkan sebuah tempat bagi para pengunjung yang berniat untuk meninggalkan dengan mecoretkan jejak disana.

Tiada ulasan: